Tanjung Siambang— Kebiasaan membaca Al-Qur’an tidak selalu harus dimulai dari waktu yang panjang. Di SD Tanjung Siambang, para siswa membiasakan diri membaca Al-Qur’an selama kurang lebih 15 menit sebelum mengikuti kegiatan pembelajaran. Kegiatan tersebut tampak dilakukan dengan penuh kesungguhan. Para siswa duduk rapi di meja masing-masing sambil membuka mushaf Al-Qur’an. Mereka membaca ayat demi ayat dengan bimbingan dan suasana belajar yang tenang. Salah seorang siswi terlihat tekun mengikuti bacaan menggunakan alat bantu penunjuk, sementara siswa lainnya juga menjalankan kegiatan serupa di tempat duduk masing-masing. Pembiasaan ini menjadi bagian penting dalam membangun karakter religius peserta didik. Walaupun hanya berlangsung 15 menit, kegiatan yang dilakukan secara rutin dapat menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sekaligus melatih kedisiplinan siswa sejak usia sekolah dasar.
Terbentuknya kebiasaan membaca Al-Qur’an di SD Tanjung Siambang tentu tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada sejumlah faktor pendukung yang membuat kegiatan ini dapat berjalan secara konsisten, yaitu:
Kebiasaan ini dapat dijelaskan melalui teori habit loo* atau lingkaran kebiasaan yang dikemukakan Charles Duhigg dalam bukunya The Power of Habit: Why We Do What We Do in Life and Business. Menurut teori tersebut, kebiasaan terbentuk melalui tiga unsur utama: pemicu, rutinitas, dan penghargaan. [penguinrandomhouse](https://www.penguinrandomhouse.com/books/202855/the-power-of-habit-by-charles-duhigg/9780812981605/teachers-guide/)
Dalam kegiatan membaca Al-Qur’an di SD Tanjung Siambang, penerapannya dapat dilihat sebagai berikut:
1. Pemicu
Bel masuk, waktu sebelum pelajaran, atau arahan guru menjadi tanda bagi siswa bahwa kegiatan membaca Al-Qur’an akan dimulai.
2. Rutinitas
Siswa mengambil atau membuka mushaf, duduk dengan tertib, kemudian membaca Al-Qur’an selama 15 menit.
3. Penghargaan
Siswa memperoleh ketenangan batin, rasa senang karena mampu membaca, perhatian dari guru, serta apresiasi atas kedisiplinan mereka.
Jika ketiga unsur tersebut dilakukan secara berulang dalam suasana yang konsisten, kegiatan membaca Al-Qur’an akan semakin mudah dilakukan dan perlahan berubah menjadi kebiasaan. Kajian tentang pembentukan kebiasaan dalam pendidikan juga menjelaskan bahwa perilaku dapat tumbuh melalui lingkungan yang mendukung, kegiatan yang dilakukan berulang, serta rasa puas setelah menyelesaikan kegiatan tersebut. [library.apsce](https://library.apsce.net/index.php/ICCE/article/download/3433/3309/4397)
Kegiatan membaca Al-Qur’an selama 15 menit bukan hanya mengisi waktu sebelum pembelajaran. Lebih dari itu, kegiatan tersebut merupakan upaya sekolah untuk menanamkan nilai keagamaan, kedisiplinan, ketekunan, dan tanggung jawab.
Program pembiasaan membaca Al-Qur’an selama 15 menit sebelum pelajaran juga telah digunakan dalam berbagai lingkungan pendidikan sebagai salah satu cara membangun budaya literasi Al-Qur’an dan meningkatkan sikap religius siswa. [ejournal.uin-suska.ac](https://ejournal.uin-suska.ac.id/index.php/suaraguru/article/download/5597/3286)
Dari kebiasaan sederhana itu, siswa belajar bahwa membaca Al-Qur’an tidak harus menunggu waktu luang yang panjang. Lima belas menit yang dilakukan setiap hari dapat menjadi langkah kecil yang membentuk kebiasaan besar, yakni tumbuhnya generasi yang dekat dengan Al-Qur’an, disiplin dalam belajar, dan memiliki karakter religius.
SD Tanjung Siambang membuktikan bahwa kebiasaan baik dapat dimulai dari waktu yang singkat, asalkan dilakukan secara rutin, didukung oleh lingkungan, dan dibimbing dengan keteladanan.
| Tanggal | : 19 Agustus 2026 |
| Dilihat | : 222 Kali |