TANJUNG SIMBANG — Pagi hari di SD Tanjung Simbang selalu diwarnai keceriaan yang khas. Sebelum bel masuk sekolah berbunyi, halaman sekolah bukan dihiasi oleh anak-anak yang sibuk menatap layar gawai (smartphone), melainkan riuhnya gelak tawa dan riuh suara langkah kaki anak-anak yang asyik memainkan berbagai permainan rakyat tradisional khas Melayu.
Bagi masyarakat Melayu terdahulu, permainan rakyat bukan sekadar pengisi waktu luang atau hiburan semata. Di balik kesederhanaannya, permainan tradisional menyimpan makna mendalam: mengajar tentang kebersamaan, kejujuran, kecerdasan mengatur strategi, hingga melatih fisik dan motorik anak. Permainan ini menjadi perekat sosial yang menumbuhkan rasa empati dan solidaritas sejak dini.
Nilai-nilai luhur itulah yang kini hidup kembali di halaman SD Tanjung Simbang. Setiap pagi, para siswa secara alami terbagi ke dalam beberapa kelompok permainan favorit mereka:
Main Ye-Ye (Lompat Tali Karet)
Dengan untaian karet gelang yang dirangkai panjang, anak-anak melompat bergantian dengan penuh ketangkasan. Permainan ini melatih kelincahan, keberanian, dan daya tahan fisik.
Main Goli (Kelereng)
Di sudut halaman yang berdebu, anak-anak berjongkok mengincar kelereng lawan. Main Goli membutuhkan konsentrasi tinggi, akurasi, dan kemampuan menyusun strategi.
Main Seremban
Berbeda dari daerah lain yang menggunakan bola kecil, anak-anak Melayu memainkannya dengan cangkang keong. Permainan ini melatih kejelian mata dan kecepatan tangan dalam menangkap keong satu per satu.
Main Congkak
Duduk berhadapan di selasar kelas, dua siswa tampak serius memindahkan biji-biji congkak dari satu lubang ke lubang lainnya. Permainan ini mengajarkan ketelitian dan kemampuan berhitung.
Main Kaki Hantu (Egrang Tempurung)
Salah satu yang paling seru adalah Main Kaki Hantu, di mana anak-anak berjalan menggunakan tumpuan tempurung kelapa yang diikat tali. Permainan ini menguji keseimbangan tubuh serta keberanian.
"Permainan tradisional mengajarkan anak-anak kita untuk saling berinteraksi secara nyata, belajar menerima kekalahan dengan sportif, dan tertawa bersama tanpa batasan teknologi," ujar salah satu guru di SD Tanjung Simbang.
Melalui kebiasaan pagi ini, siswa SD Tanjung Simbang tidak hanya merawat fisik dan keceriaan mereka sebelum belajar di kelas, tetapi juga menjaga warisan budaya takbenda Melayu agar tetap lestari dan tidak tergerus oleh zaman.